Commitment it's a funny thing. you know?
It's almost like getting tatto.
You think, you think, you think and you think before you get one.
And once you get one, it sticks to you hard and deep.
Tapi kemudian mungkin kita tiba di suatu titik ketika rasanya benci banget melihat tato itu, and all you wanna do is get rid of it.
So then you did.
And you're fine without any tattoo for a while.
Tapi bisa aja kan, tiba - tiba kita merasa : kok kayakpnya hidup gw polos banget tanpa si tato itu.
Ketemu pula dengan tato baru yang oke.
Mulai mikir lagi, nato lagi nggak ya?
Banyak orang bilang kalau udah pernah menato sekali, harusnya yang kedua gampang.
Toh udah pernah ini. Udah tahu sakitnya, tapi udah ngerasain enaknya juga.
Jadi harusnya kalau udah ketemu tato baru yang oke, ya tinggal dilakukan saja.
But there's where you are wrong.
There's always first tattoo factor.
Tato pertama akan selalu jadi yang pertama.
Yang sebelum di-tato butuh waktu lama untuk mikir, waktu mau dihilangkan juga prosesnya susah
Sudah hilang pun, masih ada bekas lukanya, kan?
Sekecil apapun baret itu pasti masih ada. Dan tidak mudah menemukan tato yang bisa menyembunyikan bekas luka itu.
Membuatnya tak kasat mata.