Selasa, 14 November 2017

Tuhan antara cinta

Sering kali cinta tersingkirkan oleh perbedaan ras, suku dan agama.
Begitulah cerita ini dimulai oleh aku yang tidak pernah terpikir untuk memulainya dan dia yang berhasil membuatku berani menjalani cinta di tengah perbedaan.



1. to be continued .. 





Senin, 10 Juli 2017

Haruskah Membenci?

Haruskah membenci saat hati lebih sakit dari tertusuk belati
atau saat mata ini tak dapat lagi menangis untuk perih tak terobati?

Jika membenci dapat menghapus luka
seperti air menghilangkan dahaga begitu saja.
Aku akan pilih membenci, jika semua lenyap tak terasa.


Selasa, 11 Februari 2014

We Called it : FUN



Akhirnya, Manis manja group, lengkap and we did something fun at Friday night. 

And we can’t stop 

And we won’t stop

Kurang lebih begitu, deh kalo kita udah ngumpul.
Kita karo – karo, beres itu bawaannya mau kemana gitu, untung yang nyetir (re : Mufti)  gak lagi gendeng dan nyulik kita ke antah berantah. 

Pas Karo - karo, segalau - galaunya lagu gak akan jadi galau pas dinyanyiin -_____-"
Berhubung kita adalah manis manja group, kita tak lepas dari dangdut as in the video. 

(ps : just for fun) 


Dedicated for : @EkadewiR @MarisaAryanti21 @HendroWA @titiFYS @MuftiIkhwana

 



Minggu, 26 Januari 2014

Puncak



Aku akan berdiri di suatu puncak.
Puncak dimana aku telah stabil berdiri.
Mampu menatap dengan percaya diri.

Puncak

Dimana aku telah bisa meninggalkan orang – orang yang meninggalkanku.
Membuat mereka berfikir dan bergedik.
Membuat mereka menoleh dan kembali.

Senin, 06 Januari 2014

Sepenggal Divortiare


Short Movie adopted from Divortiare


Commitment it's a funny thing. you know?
It's almost like getting tatto.
You think, you think, you think and you think before you get one.
And once you get one, it sticks to you hard and deep.
Tapi kemudian mungkin kita tiba di suatu titik ketika rasanya benci banget melihat tato itu, and all you wanna do is get rid of it.
So then you did.
And you're fine without any tattoo for a while.

Tapi bisa aja kan, tiba - tiba kita merasa : kok kayakpnya hidup gw polos banget tanpa si tato itu. 
Ketemu pula dengan tato baru yang oke.
Mulai mikir lagi, nato lagi nggak ya?
Banyak orang bilang kalau udah pernah menato sekali, harusnya yang kedua gampang.
Toh udah pernah ini. Udah tahu sakitnya, tapi udah ngerasain enaknya juga.
Jadi harusnya kalau udah ketemu tato baru yang oke, ya tinggal dilakukan saja.

But there's where you are wrong.
There's always first tattoo factor.
Tato pertama akan selalu jadi yang pertama.
Yang sebelum di-tato butuh waktu lama untuk mikir, waktu mau dihilangkan juga prosesnya susah
Sudah hilang pun, masih ada bekas lukanya, kan?
Sekecil apapun baret itu pasti masih ada. Dan tidak mudah menemukan tato yang bisa menyembunyikan bekas luka itu.
Membuatnya tak kasat mata.



Divortiare - Ika Natassa 




Selasa, 19 November 2013

Semacam Trauma (mungkin)

Bukan aku menutup diri atau hati
Tapi rasanya, masih rasa luka
Aku bukan orang tega yang menjadikan ketulusan sebagai obat luka
atau hanya pengalih rasa
Sabarlah menunggu..

Rabu, 06 November 2013

Perumpamaan

  


Kita dulu itu ibarat awan mendung yang membawa titik-titik hujan.

Aku adalah awannya.

Yang menyediakan semua tempat untuk air hujan berlindung. 
Memberikan kehangatan serta ruang yang nyaman, sehingga kamu selalu aman dibawa kemana-mana. 
Sekalipun terkadang rasanya berat dan sesak, tetapi aku tak pernah mengeluh. 
Aku bangga bisa membawamu ke mana-mana. 
Aku senang bisa selalu mendekapmu, dan dibuat seolah akan hidup selamanya denganmu.

Dan engkau adalah hujan.

Yang muncul entah dari mana asalnya, membawa banyak harapan, yang ingin selalu kugenggam.
Kamu terasa dingin sekaligus hangat. 
Keras sekaligus lembut.
Sayangnya kamu tak pernah bisa digenggam, selalu berdalih ingin mencari kebebasan, tanpa diketahui kapan bisa tinggal lama di sebuah ruang.
Dan saat sang waktu bertiup membawa ke manapun kita mau, kamu tiba-tiba pergi.
Jatuh begitu saja ke bumi, tanpa menoleh, tanpa sepatah kata, dan membawa semua harapan itu pergi.
Hampa sudah aku rasanya, tak ada yang kupeluk, tak ada yang kudekap lagi.

Aku sendirian!
Namun begitu waktu kembali meniupku, aku sadar, aku menjadi awan yang putih dan ringan. 
Yang bahagia di antara sinar mentari. 
Dan aku juga mulai melupakanmu.
Membiarkanmu yang tadinya jatuh entah ke mana di pelukan bumi, memberikan harapannya pada orang lain.